Policy bukanlah kebijakan

yangBebas, yangSantai September 19th, 2008

“Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan  untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat secara adil dan merata”

Jika dan hanya jika sebuah keputusan Negara telah memenuhi satu kalimat itu bolehlan keputusan itu di beri label `Kebijakan`.

Akan terasa aneh jika ternyata yang di sebut-sebut kebijakan adalah penyebab utama minyak tanah langka, sehingga terpaksa beli gas, yang tentu saja tak dapat di isi separuh saja ketika ternyata dana di dompet yang tak pernah diganti sejak hari pernikahan dulu telah terlebih dahulu dibelanjakan sepotong… hanya sepotong paha ayam yang tak terlalu besar untuk si kecil yang sedang tersenyum dijanjikan makan enak sore ini.

Belum lagi ada cemas yang hinggap di hati tatkala pergi, takut akan anak istri tak bisa selamat dari kobaran api jika suatu hari si tabung kecil, yang walaupun kecil telah menghanguskan sebuah kampung - menurut berita sore tadi.

Ketika itu harus dibilang sebuah kebijakan, kenapa harga minyak tak lalu segera turun setelah harga minyak dunia anjlok.

Apa jadinya jika tak ada hal yang bijak dalam lembaran surat yang di edarkan dan dikenal sebagai sebuah kebijakan…? Jika semuanya sudah terlambat, Paling hanya bisa menyeru ketika ternyata masyarakat tak lagi mau  menunggu keajaiban bahwa pemerintahnya tak lagi mengulur-ulur waktu untuk mensejahterakan rakyatnya.

Rakyat ini bukan orang bodoh, daripada berlarut-larut mengurusi hal yang tak juga selesai, misal kenyamanan kereta api dan bus, lebih baik mandiri dengan membawa motor sendiri-sendiri.

Toh ketika ajal menghampiri, para pejabat disana yang katanya peduli rakyat tak akan datang ke rumah walau hanya sekedar melayat. Paling juga hanya berkata prihatin atas kasus semacam itu dan berkata bla..bla..bla.. yang tak juga bisa menyelesaikan masalah

Masih banyak yang so-called kebijakan sama sekali tidak memenuhi hanya 1 kalimat diatas.

Apalagi naga-naganya sedang ada pembenaran tuch.. teori dan presentasi silakan dibuat semenarik mungkin, tapi liatlah apa yang ada di lapangan, lagi-lagi siapa yang dirugikan?

Jadi masih pantaskah  terjemahan policy adalah kebijakan (kebijaksanaan) ???

Tak ada yang diam

yangSantai September 19th, 2008

Gemericik hujan yang menghujam keras daratan kering sore itu, Dengan seketika menghentikan  langkah-langkah kaki yang sedari pagi hilir mudik tak pernah berhenti berjalan. Sejenak semuanya senyap dari suara-suara yang biasa, tergantikan letupan-letupan kecil air hujan yang seakan telah rindu pada tanah kering.

Saat itu seorang gadis remaja duduk termenung dibelakang tembok kaca rebuah restoran. Seakan tak mengerti, dia tak lepaskan sekejap pun pandangannya dari tetes-tetes hujan yang jatuh didekatnya. Sambil sesekali meminum sedikit coklat hangat yang terhidang di mejanya.

Dalam pikirannya terbayang langkah kaki kecilnya dulu diantara derasnya hujan. Seketika ia pun tersenyum lirih. Entah sudah berapa lama ia tak merasakan lagi butiran-butiran dingin itu menyentuh kulitnya apalagi membasahi seluruh tubuhnya.

Tak berapa lama suasana mulai berubah, suara gemericik itu kini mulai menjauh, tergantikan lagi oleh suara derap langkah kaki yang seakan marah karena tertahan oleh rintik-rintik hujan.

Seakan tak ada yang diam, kini waktu pun memaksanya untuk pergi, meninggalkan lamunan akan kenangan-kenangan manisnya. Dengan malas ia lalu melirik jam yang terkait manis di lengan kirinya.

“Ouch….”, hanya ucapan itu sebelum akhirnya suara high heel sang gadis ikut menambah ramainya siang itu.